Tuesday, February 01, 2011

DAN GORENGAN (pun) HARGANYA NAIK

Di awal tahun sebuah usulan dari Kerajaan Kebon Sirih cukup mencenangkan “Kenaikan gaji pegawai BI” dengan alasan yang rasional dan masuk akal menyesuaikan dengan laju inflasi. Tak berselang minggu penguasa Istana Medan Merdeka pun mengeluh tentang gajinya yang telah 7 tahun tidak mengalami kenaikan.
Sudah sewajarnya lah sebuah prestasi diganjar dengan hadiah ataupun imbalan yang setimpal, bahkan sudah menjadi keharusan. Hal ini sebagai rasa terima kasih atau penghargaan atas apa yang telah diraih.
Tadi sore saya beli gorengan di depan komplek, ternyata harganya naik. Sekarang Rp.600,- satunya pak. Oh..gitu sahutku pendek, padahal baru minggu kemarin beli gorengan dan waktu itu jatah cabai rawit sebagai bonus pembelian telah dikurangi, sekarang harga gorengan naik cabai rawitnya pun tak bertambah. Sesaat aku termenung mungkinkah ada kaitan dengan rencana kenaikan gaji dari Kerajaan Kebon Sirih dan Istana Medan Merdeka?
Bank Indonesia selaku pengawas dan kontrol atas moneter bukankah salah satu tugasnya untuk mengontol laju inflasi. Terus jika laju inflasi bergerek naik apakah BI telah gagal? Ah inflasi naik tidak apa-apa kan nanti ada kenaikan gaji.
Tapi bagaimana bagi yang tidak mempunyai gaji, atau yang punya gaji sekalipun meski telah dianggarkan dalam APBN kenaikan bagi PNS/TNI/POLRI apakah kenaikannya sudah selaras dengan laju inflasi ? atau jangan-jangan malah kenaikan gaji itu tergerus oleh inflasi.
Ah, mulai besok kurangi beli gorengan aja 

Wednesday, October 28, 2009

pemuda


Sesuatu yang nyata dan jelas: penjajahan dan penindasan dirasakan benar oleh para pemuda dan pemudi saat mencetuskan Sumpah Pemuda. Keyakinan dan kekuatan untuk memerangi bersama memperkokoh pondasi untuk bersatu.
Waktu pun terus bergulir, tercatat peran pemuda-dan pemudi selalu mewarnai perjalanan Negara Republik tercinta.
Semoga pergerakan pemuda saat ini murni memperjuangkan aspirasi dan kepedulian kepada rakyat dan bukanlah topeng yang dilambari untuk tujuan keuntungan pribadi.
Mari bangkit bersama dengan semangat yang sama dengan para jong dimasa lalu.

Friday, April 03, 2009

Good Governance is Very GooD


Bukan sekedar slogan, saya sudah merasakannya sendiri. Dikarenakan mulai senin depan saya akan mengikuti International short course di negeri tetangga. Wah sudah pasti dong banyak surat yang harus diurus. Meskipun pemberitahuan sudah diinformasikan jauh-jauh hari sebelumnya, tapi karena kesibukan dan kebiasaan jelek kalo bisa besok kenapa harus sekarang (…jangan diikiuti!!!) maka saya baru mengurusnya seminggu sebelum keberangkatan.

Mulai dari surat tugas, izin dari Setneg, sampai exit permit dari Deplu. Untunglah (wong jowo untung terus!) hari ini selesai semua dan senin aku akan dinegeri orang selama sebulan penuh. Dalam short course tersebut pihak penyelenggara mensyaratkan kepada setiap peserta agar membawa dokumen berupa film mengenai negara asal peserta. Sempet bingung juga mencari material ini, setelah tanya ama mbah google dan unduh sana-sini tapi hasilnya masih kurang. Seorang teman menyarankan mas kenapa gak coba ke menbudpar aja pasti disana ada.

Mengikuti saran dari teman saya pagi ini jam 08.30 langsung tancap gas meluncur ke medan merdeka barat. Sampai di depan lobi disambut security yang with smiling face “ ada yang bisa dibantu pak?”. Secara dapat bantuan to the point saya utarakan maskud hati. Dengan simpatik bapak dan mba resipsionei mempersilahkan saya untuk menunggu, sebab petugas yang bersangkutan sedang olahraga, “biasa pak hari jumat hari krida”. Menunggu selama 30 menit di ruang tamu yang sejuk ac, bersih dan berhotspot menjadikan suasan tidak jemu. Silahkan pak mengisi daftar tamu, langsung lantai 10 di Direktorat Sarana dan Promosi.

Tiba di lantai 10 tak menunggu lama langsung disambut dengan pertanyaan “ada yang bisa dibantu Pak?”. Begini bu saya …………film tentang Indonesia. “ Oh…tunggu sebentar”! Si Ibu yang baik hati memanggil staf pegawainya menjelasakan maksud dan tujuan saya, tak sampai 5 menit pegawai tersebut sudah membawakan setumpuk cd dan dvd serta formulir untuk saya isi. Setelah selesai semua saya tanyakan kepada pegawai tersebut adakah biayanya? Dengan senyum yang tulus dijawabnya “tidak Pak, ini gratis”! Deg…(kaget…terkaget…)ruar biasa terbseit dalam hati padahal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata belum renumerasi!

Sepertinya inilah buah manis dari reformasi birokrasi.




Friday, October 17, 2008

Bang Thoyib


Wah setelah lama gak ngeblog, ternyata kangen juga! Maklum sekarang pura-pura sibuk. Bulan Juli-Agustus selama 3 minggu dikirim ke Nanggro Aceh Darussalam,kemudian Ramadhan kemarin, sampai tgl 26 september harus gantiin bos "berpusing ke Brunei,Malaysia dan Philipina. Dan sekarang sampai tgl 1 Oktober kembali dikirim selama 3 minggu ke celebes island.
Puih cape banget deh, terbayang berapa banyak laporan yang akan dibuat. Ya meski ada enaknya juga jalan-jalan ke tempat yang baru buat nambah pengalaman.
Selama di Aceh saya banyak berada di Unsyiah, kemudian di negri tetangga berkutat sekitar perwakilan baik KBRI maupun KJRI, dan sulawesi bermarkas di Polres.
Sampe -sampe di tempat kerja dah dapat julukan baru "bang thoyib".